Terminal Betan Subing yang megah 15 Tahun berlalu sekarang ditanami ubi kayu.

By Administrator Published on 07:10, 24 Oct 2019.
Terminal Betan Subing yang megah 15 Tahun berlalu sekarang ditanami ubi kayu.

Gunung Sugi -  RN. Potensi Daerah Lampung banyak yang belum terjamah oleh publik. Termasuk salah satunya adalah potensi wisata yang ada di Lampung. Lampung yang dahulu merupakan sebuah Kerajaan tentu memiliki banyak sejarah yang bisa digali dan dijadikan cerita untuk masyarakat Lampung. Salah satunya yakni daerah Canguk Gaccak yang ada di desa Sekipi, Kec. Abung Tinggi, Lampung Utara. Situs Canguk Gaccak berada di tepi Way Abung, yang merupakan anak Way Rarem. Di sebelah utara sungai terdapat lahan yang dibatasi sungai alam serta parit dan benteng tanah buatan. Parit dan benteng tanah berada di bagian timur, melintang dengan orientasi utara – selatan menghubungkan dua aliran sungai. Daerah Canguk merupakan satu daerah yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan masyarakat Lampung. 

Menurut Marwansyah Warganegara, masyarakat Lampung mula-mula bermukim di daerah Sekalabrak yang berada di sekitar Gunung Pesagi hingga tepian Danau Ranau, yang sekarang menjadi Kabupaten Lampung Barat. Terdapat empat Empu yang merupakan cikal bakal masyarakat Lampung, keempat empu tersebut adalah: "Empu Canggih bergelar Ratu Di Puncak", "Empu Serunting Bergelar Ratu Di Pugung", "Empu Rakihan bergelar Ratu Di Belalaw", dan "Empu Aji Saka bergelar Ratu Di Pemanggilan".

Suatu hari pada Abad ke - 14, "Ratu Di Puncak" mengadakan imigrasi dari Skalabrak menuju Daerah Selabung lalu pindah ke Canguk Gaccak bersama ketiga istrinya yakni "Puteri Laut Lebu" yang melahirkan anak "puteri Nuban", "Puteri Ranau" yang melahirkan anak "Nunyai dan Unyi", "Puteri Pagaruyung" yang melahirkan anak Betan lebih dikenal dengan nama "Subing".

"Nyunyai" memiliki gelar adat "Minak Trio Deso" hidup pada tahun 1670 sampai dengan 1775. Minak Trio Deso memiliki maju (istri) dua, yang pertama "Minak Rajo Lemawung" dari daerah Melinting dan yang kedua "Minak Munggah Dabung" dari daerah Sekipi. Dari istri yang pertama memiliki anak keturunan yaitu "Minak Penatih Tuho", sedangkan dari istri yang kedua memiliki anak keturunan "Minak Krio Demung Latco", dan "Minak Kebahyang".

Beliau "Minak Penatih Tuho" menurunkan anak keturunannya yang pertama "Minak Semelasem", yang kedua "Minak Gutti Selango" (Krio Lanang Jayo). Beliau "Minak Krio Demung Latco" menurunkan anak keturunannya di Kampung Surakarta, Kampung Mulang Maya, Kampung Bandar Abung, sedangkan beliau "Minak Kebahyang" menurunkan anak keturunanya di Kampung Blambangan dan Kampung Kota Alam.

Ada cerita tersendiri mengenai istri kedua dari "Minak Trio Deso" yakni "Minak Munggah Dabung" (Rendang Sedayu) dimana Keluarga "Rendang Sedayu" tidak menyetujui pernikahan Putrinya karena akan dijadikan istri kedua. Akan tetapi karena ketampanan dari "Minak Trio Deso" yang digambarkan memiliki tubuh tinggi besar, kulit putih, rambut hitam tidak panjang tidak pendek, dan ke gigihan beliau meyakinkan "Rendang Sedayu" akhirnya merekapun menikah, meski harus pergi dari Canguk Gaccak selama beberapa tahun. Pergi dari Rumah ini yang menjadi cikal bakal adat "Sebambangan" di dalam tradisi Lampung. 

Ketentraman, keamanan, dan kesejahteraan yang sudah terbentuk terganggu ulah pengkhianatan "Raja Di Lawuk" dari Laut Lebu yang berhasil membunuh "Ratu Di Puncak". Akhirnya keresahan ini memaksa Marga Nyunyai, Marga Unyi, Marga Nuban, Marga Subing, Marga Kunang, Marga Anak Tuho, Marga Selagai, Marga Nyerupa, dan Marga Beliuk atau disebut dengan "Abung Siwo Mego" bersatu untuk membalas dendam, dan akhirnya "Raja di Lawuk" berhasil dibunuh oleh salah satu anak "Ratu Di Puncak" yakni "Betan Subing".

Dari Potongan sejarah tersebut kita teringat kepada Nama sebuah Terminal megah  yaitu “Terminal BETAN SUBING” yang sekarang merana karena tidak ada yang mengurusnya kondisi terakhir Terminal Betan Subing sekarang sebagian telah ditanami Ubi kayu dan sebagian telah ditumbuhi semak belukar.

Masa itu Pemkab Lampung Tengah mengusulkan adanya rest area di Terminal Betan Subing, Terbanggibesar, Lamteng. Rest area ini juga akan nenjadi tempat untuk memperkenalkan hasil-hasil industri kecil di Lamteng.

Bupati Lamteng, melalui Kadiskominfo Sarjito, (Pada Saat itu), mengatakan luas lahan Terminal Betan Subing sekitar 40 hektare. Jalan tol trans-Sumatera membelah lahan milik terminal, sehingga memungkinkan dibuat rest area di kanan dan kiri tol.

Menurut Sarjito, Pemkab telah menggelar pertemuan dengan Dewan Riset Daerah untuk mengkaji pembuatan rest area di Terminal Betan Subing. Selanjutnya, jika telah mendapat izin dari Kementerian Perhubungan, pembuatan rest area bisa direalisasikan. Adanya rest area, kata Sarjito, memungkinkan warga sekitar membuka usaha kuliner. Selain itu, makanan atau hasil industri lain yang berasal dari UKM-UKM di Lamteng juga bisa dipasarkan di rest area tersebut.

Kondisi sekarang pembangunan Terminal Betan Subing terbengkalai selama puluhan tahun, Bupati Lampung Tengah DR. Ir. Mustafa (Waktu itu) akan mengupayakan pembangunan Betan Subing di Kecamatan Terbanggibesar Lampung Tengah diteruskan.  Permohonan kelanjutan pembangunan terminal disampaikan langsung kepada Kementerian Perhubungan dan satker Dishub Provinsi di kantor bupati,

Mustafa menuturkan kondisi terminal Betan Subing yang terbengkalai tak beroperasi sangat disayangkan. Padahal lokasinya yang strategis, terminal yang diresmikan tahun 2004 oleh Presiden Megawati saat itu seharusnya bisa menjadi terminal andalan yang bisa menambah kas APBD Lampung Tengah

Mustafa meminta agar terminal Betan Subing yang pengelolaannya kini diserahkan ke pusat, agar segera direhab dan pembangunannya dilanjutkan. Menurut Mustafa, terminal agrobisnis tersebut rencananya akan dibuat kawasan baru yang diharapkan dapat meningkatkan perekonomian warga setempat. 

Selain kawasan transit, di areal terminal juga dilengkapi dengan rumah potong hewan, pasar distribusi produk pertanian dan agrobisnis, pasar grosir, kawasan niaga terpadu, kawasan pengrajin. Di sini juga disediakan areal pemancingan, perhotelan, kawasan rumah makan, dan restoran.

Sebagai daerah jalur lintas sumatera, area tersebut memiliki potensi besar sebagai kawasan niaga, yang tentunya dapat memberi efek peningkatan ekonomi. Hanya saja, pembangunan terminal Betan Subing tersendat karena faktor anggaran pekerjaan terminal tertunda. Pengelolaan kini telah diserahkan ke pemerintah pusat.

Pada Masa itu Menanggapi permasalahan terminal Betan Subingh, Rudu Sutristno, mewakili Tim P3D Kementerian Perhubungan pada masa itu mengaku akan mengupayakan permohonan bupati Mustafa di APBN tahun mendatang. Akan di ajukan di APBN selanjutnya. Mudah-mudahan dapat segera direalisasikan dan pembangunan segera dilaksanakan

Ada juga ketentuan saat itu 143 terminal type A di Indonesia yang pengelolaannya diambil oleh pusat. Hal ini sesuai dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2014. 

Termasuk Aset terminal Betan Subing telah diserahkan ke pusat, namun belum beroperasi karena terkendala pembangunan yang belum rampung. Karenanya ini akan kami upayakan agar bisa dibangun.

Sekara setelah 15 tahun kemudian Terminal Betan subbing tang terbelah oleh Jalan Tol Sumatra Sejumlah pengemudi mobil memanfaatkan lokasi di Terminal Subing, Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah dengan membayar "mel" untuk bisa menggunakan ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Terbanggi Besar-Mesuji di Provinsi Lampung yang masih ditutup.

"Informasinya mereka bisa lewat tol dengan membayar mel," kata salah satu petugas keamanan dari PT Waskita Karya, di Mesuji. Menurutnya, kemungkinan masih belum adanya kesepakatan antara pemerintah dan warga terkait pembebasan lahan. Karena itu, lokasi tersebut tidak ditutup dan pengemudi masih bisa melalui jalan tol. "Mungkin belum ada kesepakatan untuk pembebasan lahannya," kata dia.Jalan tol penghubung Terbanggi Besar-Mesuji itu sampai dengan saat ini masih ditutup menunggu peresmian oleh Presiden RI Joko Widodo. (Waktu itu)
Namun meskipun dalam keadaan ditutup, masih ada kendaraan yang nisa masuk tol Mesuji melalui jalan pintas di Terminal Betan Subing itu..

Hal itu dibenarkan petugas keamanan setempat saat ditemui di pintu tol Mesuji. Dia menyebutkan ada jalan pintas untuk bisa tembus memasuki jalan tol Terbanggi Besar menuju Mesuji.

"Masih ada saja yang lewat tol, katanya sih ada jalan pintas itu, makanya mereka bisa lewat," katanya pula.

Sekadar diketahui, Terminal Betan Subing merupakan exit door Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Kadiskominfo Lamteng Sarjito menyatakan, Bupati sudah melakukan rapat dengan Dewan Riset Daerah dan pihak terkait. “Bapak Bupati sudah rapat membahas hal ini. Jika sudah dapat izin pemerintah pusat baru direalisasikan menjadi rest area. Manfaatnya bisa dirasakan masyarakat. Bisa berjualan makanan khas Lamteng. UMKM juga dilibatkan. Tentunya ekonomi masyarakat bisa meningkat,” ujarnya

Tidak hanya dijadikan rest area. Sarjito menyatakan juga akan dibangun tempat wisata. “Dibangun tempat wisata juga wacananya. Orang dari Medan-Palembang bisa tahu Lamteng,” katanya.

Masalah keamanan, kata Sarjito, pemerintah daerah akan menjamin. “Keamanannya dijamin. Koordinasi dengan tokoh masyarakat, kepolisian, dan TNI akan dilakukan. Jadi nanti pengunjung yang datang merasa nyaman,” ungkapnya.

Tetapi sekarang nasib Terminal Betan Subing Bagai kerekap tumbuh di atas batu hidup segan matipun tak mau Masyarakat bertanya kenapa pembangunan sebesar itu bisa Mangkrak ?, seharusnya pembangunan Transportasi sekarang sudah terkoneksi ke seluruh Moda tranportasi yang lain namun sayang disayang Betan Subing  ditanami UBI KAYU MERANA HINGGA KINI TIDAK ADA KEPASTIAN NASIBNYA? (Tim – RN)

Share

0 Comments

Join the Conversation