MASSA DARI ENAM KOMUNITAS DAYAK AKSI DI DEPAN PN MALINAU TUNTUT TIGA TOKOH ADAT DIBEBASKAN

By Administrator Published on 42:09, 27 Jun 2018.
MASSA DARI ENAM KOMUNITAS DAYAK AKSI DI DEPAN PN MALINAU TUNTUT TIGA TOKOH ADAT DIBEBASKAN

KALIMANTAN UTARA – RN.  Polisi Bukan Centeng Perusahaan!!! Stop Kriminalisasi Tokoh Adat Dayak!!!

Sekitar 300 orang massa dari enam komunitas adat yang tergabung dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), komunitas yang melakukan aksi diantaranya Komunitas Dayak Kenyah, Ludayeh, Tenggalan, Tahol, Belusu dan Punan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara turun ke jalan, Senin (25/Juni/18).

Mereka melakukan aksi di depan Pengadilan Negeri Malinau Kelas II untuk mengawal persidangan praperadilan terhadap tiga orang tokoh adat dayak yang ditangkap dan dikriminalisasi oleh Kapolres Malinau.

Sekitar pukul 10.00 WIT masyarakat adat dari enam komunitas memulai aksinya dari masing-masing komunitas. Kemudian mereka melakukan aksi dengan longmach menuju Pengadilan Negeri Malinau Kelas II dan melanjutkan aksinya dengan melakukan orasi bergantian.

Dalam aksi tersebut, turut hadir juga empat tokoh adat yaitu Wakil ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Malinau Robinson Tandem, Dewan Adat Kalimantan Utara Kila Liman, Penasehat Lembaga Adat Kenyah Djalung Merang dan Kulle Njuk. Selain itu, empat orang tokoh adat tersebut juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Malinau.

Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Utara (Kaltara), Martin Labo dalam orasinya mengatakan bahwa tindakan kriminalisasi yang dilakukan oleh aparat kepolisian di Kabupaten Malinau terhadap pemangku Adat Dayak di Tanjung Nanga itu bukan hanya bentuk pengabaian dan pelanggaran terhadap hak-hak martabat Masayarakat Adat Dayak. Hal itu juga sebagai pelanggaran konstitusi NKRI yang secara final dan jelas.

“Aparat harus mengakui dan menghormati keberadaan dan hak-hak Masyarakat Adat. Hal itu sesuai dari bunyi pasal 18B ayat 2 UUD 1945,” jelas Martin.

Martin Labo yang juga kader dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengatakan bahwa seluruh Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Utara di Kabupaten Malinau telah menyatukan hati untuk berjuang melalui peradilan. Selain itu mereka juga akan menggunakan jalur politik dalam merebut kembali hak-hak martabat masyarakat adat yang telah dirampas oleh negara dan pemilik modal di negeri ini.

“Kami di Kalimantan Utara meminta kepada Negara untuk mengakui dan menghormati keberadaan Masyarakat Adat. Kami yakin ketika Negara memberi ruang yang cukup, kita akan mengekspresikan dan memberikan kontribusi demi kemajuan Indonesia. Dimana masyarakat adat merupakan komunitas asli. Sehingga bisa berdaulat, mandiri dan bermartabat di wilayah adat,” tegas Martin.

Selain itu, ia juga meminta kepada Presiden Joko Widodo, Kapolri dan para Menteri di Pemerintahan sekarang untuk mendengarkan aspirasi dari Masyarakat Adat Dayak di Kalimantan Utara. Karena selama ini, Masyarakat Adat juga bagian terpenting yang setia menjaga perbatasan NKRI selama 73 tahun Indoensia merdeka.

Dalam aksi damai yang tadi, tidak ada perwakilan dari Pengadilan yang bersedia menemui massa aksi. Pukul 16.00 WIT massa aksi membubarkan diri sambil meneriakan agar ketiga orang rekannya dibebaskan. Rencananya mereka juga akan kembali turun ke jalan untuk terus mengawal proses praperadilan sampai selesai dengan jumlah yang lebih besar. Penulis : Nang Noise. Editor : Jum. (Tim – RN)

Share

0 Comments

Join the Conversation