DAYAK MISIK KALTENG.

By Administrator Published on 33:07, 14 Apr 2016.
DAYAK MISIK KALTENG.

                                                KELOMPOK TANI “DAYAK MISIK” KALIMANTAN TENGAH

 

1.      Latar Belakang Dibentuknya Kelompok Tani “Dayak Misik” Kalimantan Tengah

 

Pendirian Kelompok Tani Dayak Misik Kalimantan Tengah dilatar belakangi oleh keprihatinan  bahwa tanah sebagai harta yang sangat berharga bagi petani Masyarakat Adat Dayak yang lahir, hidup, mengusahakan dan bertempat tinggal di tanah adat tidak mendapat pengakuan dan perlindungan oleh hukum/Negara sebagai hak yang sah.  Hal ini diperlihakan dengan banyaknya fakta dan atau kejadian bahwa tanah adat  tersebut dengan mudah dapat diambil alih pihak lain. Hal ini sangat tidak adil karena faktanya warga transmigrasi yang belum sampai kelokasi saja, sudah disiapkan/mendapat fasilitas berupa tanah pekarangan, lahan usaha I dan lahan usaha II mendapat pengakuan, penghargaan dan perlindungan hukum  dengan mendapat sertifikat hak atas tanah dari Badan Pertanahan Nasional.  Fakta terkini memperlihatkan bahwa tanah adat Masyarakat Dayak sudah semakin  sempit dan terancam habis diambil alih pihak lain dengan mudah.  Pengambil alihan tanah adat Masyarakat Dayak oleh pihak lain semakin tidak terkendali dengan mengatasnamakan pembangunan dalam bentuk kehadiran investasi/investor  (HPH, PBS, Tambang), serta proyek Transmigrasi.

2.      Tujuan Dibentuknya Kelompok Tani “Dayak Misik”

Tujuan dibentuknya Kelompok Tani “Dayak Misik” adalah untuk membela Masyarakat Adat  Dayak  yang bekerja sebagai Petani atau berbagai profesi lainnya di seluruh Desa Kalimantan Tengah,  agar bersama-sama berupaya “menolong diri sendiri” dalam menggapai keadilan, meraih kesejahteraan, mempertahankan harkat dan martabat. Hal ini sudah sejak lama diingatkan dan merupakan pesan Pahlawan Nasional dari Kalimantan Tengah yaitu Bapak Tjilik Riwut  yang mengatakan  “Ela itah tempun petak tapi manana sare, ela itah tempun kajang tapi  bisa puat, ela itah mandayung uyah tapi batawah belai”

3.      Manfaat Yang Diharapkan dan Akan Diperjuangkan Oleh  Kelompok Tani  “Dayak Misik”

Manfaat dan Perjuangan bersama dari Kelompok Tani Dayak Misik adalah sebagai berikut:

 (a)  Masyarakat Adat  Dayak yang adalah Petani dan bermukim di seluruh pedesaan dan pedalaman Kalimantan Tengah akan berjuang bersama-sama untuk mempertahankan / tidak kehilangan haknya dengan memperoleh sertifikat tanah adat seluas 5 hektar.

(b)   Mencegah bahwa pada suatu saat Masyrakat Adat Dayak akan menjadi orang asing di atas tanah warisan leluhurnya karena tanah adatnya sudah dikuasai dan dimiliki oleh orang lain.

(c)   Mencegah bahwa jangan sampai Masyrakat Adat Dayak tidak memiliki tanah adat yang luasnya minimal 5 hektar, sehingga banyak yang bekerja sebagai buruh diatas tanah warisan leluhurnya dan bahkan menjadi peminta-minta di atas harta / tanah tempat kelahirannya.

(d) Mencegah bahwa jangan sampai terjadi anak keturunan Masyarakat Adat Dayak akan menjadi orang yang termaginalkan dan menjadi hamba-sahaya bagi para pemilik tanah  yang telah mengambil alih Tanah dat Masyrakat Dayak sehingga Harkat dan Martabat mereka sebagai penduduk suku asli (pribumi) tidak lagi mereka miliki.

4.      Mengapa Harus Berjuang Untuk Memperoleh Sertifikat Tanah Adat 5 (lima) Ha / KK

Kita ketahui bahwa setiap Kepala Keluarga Masyarakat Adat Dayak di pedesaan  pasti  memiliki tanah lebih yang lebih luas dari 5 (lima) hektar.  Namun demikian, karena perjuangan ini adalah merupakan langkah awal, maka keberhasilan kita pada tahap berikutnya sudah menunggu, dan akan mudah bagi para petani Masyrakat Adat Dayak memiliki tanah adat lebih dari 5 (lima) hektar. Perlu kita sadari bersama bahwa keberhasilan kita ini akan menjadi langkah nyata perjuangan kita untuk mensertifikat tanah-tanah adat yang kita miliki. Jadi pada saatnya nanti tanah-tanah adat tersebut semuanya memiliki sertifikat.

5.      Bagaimana Kalau Tanah Adat Sudah Tidak Ada Lagi

Fakta menunjukankan bahwa banyak Desa-desa dimana Masyrakat Adat Dayak bertempat tinggal, masyrakatnya sudah tidak  lagi memiliki tanah adat  sebagai akibat dari penguasaan lahan dan hutan oleh Perusahaan (Sawit, Tambang, HPH). Untuk itu mari bersama-sama berjuang. Jangan berputus asa, sebab perjuangan kita juga bermaksud untuk mengembalikan hak-hak adat kita atas tanah adat yang kita miliki. Kita tidak akan membiarkan masyarakat penduduk asli yang sejak nenek moyangnya hidup dan menetap pada suatu Desa tidak lagi mempunyai kesempatan untuk memilki tanah seluas 5 (lima) hektar per Kepala Keluarga. Kelompok Tani  “Dayak Misik” pada Desa-Desa dengan kondisi demikian tetap harus dibentuk.  Kita akan berjuang secara bersama-sama untuk mendapatkan kembali hak-hak adat dimaksud karena kita percaya bahwa para pemilik Perusahaan tersebut akan terbuka mata hatinya dan tersentuh rasa kemanusiaannya  untuk mengembalikan  minimal 5 (lima)  hekatar untuk masing-masing Kepala Keluarga (KK).

6.      Syarat-syarat Untuk Dapat Menjadi Anggota Kelompok Tani “Dayak Misik”

Semua Kepala Keluarga Masyarakat Adat Dayak Pedesaan dan Pedalaman teristimewa para petani yang memiliki tanah adat milik bersama atau milik perorangan, atau dilokasi tertentu dalam satu hamparan di wilayah desa yang bersangkutan dapat dibagi untuk para anggota Kelompok Tani “Dayak Misik”. Selanjutnya  yang bersangkutan dapat mendaftarkan diri dengan mengisi Formulir Surat Pernyataan + copy KTP.  Untuk semua itu adalah TANPA DIPUNGUT BIAYA APAPUN.

7.      Jual Beli dan Pengalihan Kepemilikan.

Jual beli dan atau pengalihan kepemilikan atas sertifikat yang nantinya dimiliki adalah tidak diperkenankan. Hal ini disebabkan karena tanah adat seluas  5 (lima) hektar dimaksud tidak boleh dijual atau dialihkan kepihak lain minimal dalam jangka waktu 25 tahun.  Alasannya bahwa diberikankannya sertifikat dimaksud adalah untuk menjadi aset yang menjadi penopang kehidupan masing-masing keluarga, hingga ke anak keturunan.

8.      Pemanfaatan Tanah Yang Sudah Bersertifikat.

Forum Koordinasi Kelompok Tani “Dayak Misik” Kalimantan Tengah, akan berkoordinasi dengan semua pihak terkait (Pemerintah pusat, Pemprov, Pemkab, Pemkot dan pihak investor, termasuk Kelompok-Kelompok Tani “Dayak Misik”) agar para pihak terkait berkolaborasi dan berperan sesuai kapasitas masing-masing dalam memanfaatkan tanah-tanah tersebut. Pemerintah dan Pemerintah Daerah diharapkan akan mendukung fasilitasi, regulasi, penyuluh, pupuk, bibit dan lain-lain. Sementara Investor diharapkan dan didorong untuk akan mendirikan pabrik untuk mengolah hasil produksi yang dihasilkan oleh para petani. Sebagai contoh; pabrik Pakan Ternak yang bahannya jagung, Pabrik yang bahan bakunya singkong, dll. Para ketua Kelompok Tani akan mengkoordinir para petani anggotanya untuk secara bersama mengelola lahan masing-masing agar menjadi produktif, sesuai arahan dan kesepakatan.

9.      Petani Plasma

Kita ketahui bahwa banyak juga penduduk Desa yang sudah memperoleh plasma atau bentuk lain  dari  Investor yang beroperasi di lingkungan desa bersangkutan.  Apabila hal ini kita temukan  para petani tersebut tetap dapat ikut dalam program ini. Dalam hal luas tanahnya tidak mencapai luas 5 (lima) hektar maka selisih/kekurangannya  adalah menjadi perjuangan kita bersama. Karenanya mereka patut diajak untuk menjadi anggota Kelompok Tani “Dayak Misik”.

10.  Usaha Tani Menetap.

Kita mengharapkan bahwa dengan memiliki lahan minimal 5 (lima) hektar tersebut, para petani Masyarakat Adat Dayak akan menjadi pelaku usaha tani menetap.  Karenanya diharapkan bahwa para Petani yang dulunya melakukan usaha tani secara berpindah-pindah tidak lagi melakukannya. Untuk itu maka Kelompok Tani “Dayak Misik” akan mengusahakan terpenuhinya kebutuhan untuk melakukan usaha tani secara menetap. Diharapkan dengan pola usaha tani menetap ini, para petani Masyrakat Adat Dayak sudah dapat memperkirakan dan merencanakan hasil usaha taninya  setiap panen untuk memenuhi kebutuhan keluarga demi peningkatan kesejahteraan keluarga.

11.  Kemajemukan Masyarakat dan Kaitannya Dengan Program Kelompok Tani “Dayak Misik”

Kita sadari dan syukuri bahwa Kalimantan Tengah didiami oleh berbagai suku bangsa dan agama. Terkait kehidupan dalam kemajemukan tersebut, Kelompok Tani “Dayak Misik” akan bekerjasama dengan berbagai kelompok masyarakat lainnya untuk bersama-sama meningkatkan kesejahtraan masing-masing. Hal ini akan dapat mengurangi bahkan mengeliminir adanya rasa cemburu atas berbagai fasilitas yang disediakan oleh negara terutama untuk warga transmigrasi. Dengan program ini diharapkan akan tercipta kesetaraan dalam kehidupan yang harmonis dan rasa kebersamaan serta solidaritas untuk menggapai kehidupan yang lebih baik sehingga rasa persatuan dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia semakin kokoh.

12.   Pro dan Kontra Atas Pembentukan Kelompok Tani “Dayak Misik”

Sebuah program dalam rangka memperjuangkan harkat dan martabat serta hak-hak bagi suatu kelompok masyarakat tentu saja akan menimbulkan adanya orang yang mendukung maupun yang kurang mendukung bahkan menolak (Pro dan Kontra). Namun demikian, sebagai sebuah perjuangan, kita harus sadari bahwa hal tersebut adalah wajar terjadi dalam masyrakat yang demokratis. Sumbernya adalah perbedaan kepentingan, karena kita harus akui bahwa selama ini ada kelompok yang merasa nyaman dan beruntung dengan adanya praktek pengalihan bahkan perampasan dari hak-hak Masyrakat Adat Dayak atas tanah. Bangkitnya kesadaran Masyrakat Adat Dayak melalui Kelompok Tani “Dayak Misik” tentu saja akan mengganggu praktek yang mereka lakukan selama ini. Kita juga harus menyadari bahwa perjuangan sebuah kaum atau kelompok masyrakat bisa saja disikapi sebagai sebuah persaingan hidup yang kurang sehat. Bahkan sangat mungkin ada orang atau kelompok tertentu yang tidak mau melihat bahwa Masyarakat Adat Dayak bangkit berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Perjuangan kita adalah demi menciptakan rasa keadilan, peningkatan kesejahtraan bersama demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, berdasarkan Pancasila dan UUD tahun 1945, demi kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Kesimpulan

Dari latar belakang, masalah, maksud dan tujuan serta petunjuk pelaksanaan tersebut di atas, maka dapatlah ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1.      Masyarakat Adat Dayak khususnya para Petani ladang berpindah di seluruh pedesaan dan pedalaman Kalimantan Tengah, saat ini sedang menghadapi ancaman bahwa tanah adat dan hutan adat yang menjadi sandaran kehidupan dan sumber mata pencaharian mereka sejak nenek moyang (sebelum NKRI ada) dalam waktu tidak terlalu lama lagi akan habis diambil alih dalam rangka kegiatan investasi dan berbagai aktifitas kepentingan pembangunan lainnya;

2.      Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah, melalui Forum Koordinasi Kelompok Tani “Dayak Misik” Kalimantan Tengah (FKKTDM-KT), akan mengkoordinir pembentukan kelompok tani di seluruh  Kalimantan Tengah yang diperkirakan sekitar 600 desa dari 1500 desa lebih yang ada, dalam rangka mencari solusi masalah tersebut;

3.      Anggota Kelompok Tani “Dayak Misik” adalah seluruh kepala keluarga yang ada di masing-masing desa tanpa kecuali, untuk diperjuangkan haknya memperoleh 5 ha/ KK bersertifikat dari negara (Pemerintah pusat dan Pemda). Selanjutnya tanah 5 ha/KK tersebut akan dijadikan lahan produktif dengan cara dikerjasamakan dengan pihak investor dalam bentuk kemitraan dan pemberdayaan;

4.      Tanah yang diperuntukan dalam kegiatan sertifikasi  ini adalah tanah kosong yang ada di desa masing-masing, atau tanah adat yang dimiliki oleh masyarakat adat setempat (baik milik bersama maupun milik perorangan), yang didahului dengan pembuatan alat bukti minimal berupa Surat Keterangan Tanah Adat (SKTA) atau surat bukti lainnya.

5.      Hutan yang diperuntukan untuk ditetapkan sebagai hutan adat pada masing-masing desa, adalah hutan yang memang berada di wilyah desa bersangkutan, dengan alasan antara lain;

  •             Tempat berburu seperti babi, rusa, kancil, burung dll,
  •             Tempat meramu seperti mencari bambu, rotan, kulit kayu, daun untuk atap, dll, 
  •             Tempat memungut hasil hutan seperti buah tengkawang, getah jelutung, damar, madu, obat-obatan tradisiona, dll,
  • Tempat religius magis seperti pahewan, patahu, tajahan antang, dll. Hutan adat kedudukannya adalah sebagai milik bersama Masyarakat Adat Dayak desa bersangkutan dan bukan milik perorangan.

6.      Baik tanah adat maupun hutan adat, tidak boleh diperjual belikan, melainkan hanya diwariskan (dihibahkan) kepada ahli waris atau keturunannya.

7.      Khusus untuk hutan adat, selain tidak boleh diperjual belikan, juga tidak boleh dirusak untuk selama-lamanya. Masyarakat Adat Dayak setempat wajib merawat, menjaga dan hanya dapat memperoleh manfaat (berburu, meramu, memungut hasil hutan, religius magis).  (Tim - RN)

 
 

 

Share

0 Comments

Join the Conversation