AMJI ATTAK Putra Dayak, PAHLAWAN BRIMOB yang di banggakan.

By Administrator Published on 02:01, 24 Sep 2019.
AMJI ATTAK Putra Dayak, PAHLAWAN BRIMOB yang di banggakan.

Laut Cina Selatan - RN. 55 tahun silam di laut cina selatan Perahu Amji Attak berasal dari kampung Kapayang, sekitar 20 km dari pasar Anjungan, yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat dihantam 2 peluru mortir.

Amji Attak merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Amji Attak memulai kariernya dari Sekolah Agen tahun 1958, yang pada saat itu sudah masuk Mobrig Ranger atau Mobile Brigade Ranger. Mobrig dahulunya hanya memiliki Kompi 5994, yang memiliki makna tahun 59 dengan jumlah kesatuan 94, dan Amji Attak adalah anggota Kompi 5994 tersebut.

Amji Attak adalah seorang Putra Dayak berdarah panas, yang tidak boleh melihat musuh pasti akan dikejar dan di tantangnya. Karena darah panasnya ini sehingga ia sering diturunkan ke wilayah konflik dan menjadi yang terdepan sebagai tameng pasukannya. Ketika di wilayah konflik dan terjadi baku tembak dengan musuh, ketika pasukannya yang lain sibuk bersembunyi dan berlindung, Amji Attak bukannya berlindung, ia malah mengejar arah tembakan tersebut sambil balik menembakkan senjatanya ke arah musuh, sehingga membuat musuh kocar kacir dan lari tunggang langgang.

Seringkali dalam setiap bertugas, Komandannya ini menjadi kerepotan mengendalikan keberaniannya yang sangat nekad itu, karena ia tidak boleh mendengar tembakan musuh, tetap akan dikejarnya arah tembakan musuhnya tersebut, meskipun telah diperintahkan oleh Komandannya untuk berlindung.

Pernah juga ketika ia mengejar musuh yang sedang gencar memberondong pasukannya, dan ia mengejar sambil balik memuntahkan peluru dari senjatanya dan peluru tersebut habis, Amji Attak bukannya berlindung, malah tetap terus mengejar dan ketika telah terlihat musuh yang memberondong tersebut langsung diserangnya dengan apa saja yang dimilikinya sehingga musuh tersebut tewas.

Karena keberaniannya yang luar biasa tersebut menghantarkan pasukannya berhasil menguasai wilayah konflik. Sehingga setiap bertugas di wilayah konflik, Amji Attak selalu menjadi andalan pasukannya.

Ketika terjadi Konfrontasi dengan Malaysia yang dikenal dengan “Ganyang Malaysia”, pada era pemerintahan Presiden Soekarno, pasukan Mobrig Ranger diturunkan dalam tugas tersebut.

Pasukan Mobrig Ranger diturunkan dalam beberapa gelombang. Pasukan Mobrig Ranger gelombang pertama pada saat itu terdiri dari 129 orang berlayar ke Natuna. Pasukan Mobrig Ranger gelombang pertama ini diberangkatkan oleh Panglima ABRI Jenderal Ahmad Yani dari Pulau Berakit, yang sekarang namanya menjadi Batam. Ketika itu Jenderal Ahmad Yani berpesan, jika bertemu tentara dengan bekas cacar air memanjang di lengan, itu tandanya ia orang Indonesia.

Selanjutnya pada November 1964, pasukan Mobrig Ranger berlayar dari Tanjung Pinang menuju Malaysia. Dan dua perahu pasukan Mobrig Ranger berhasil masuk daratan Malaysia, namun di hutan Malaysia mereka ditangkap Patroli Inggris di Port Sehan. Kesemua anggota pasukan Mobrig Ranger yang tertangkap tersebut kemudian disidangkan di Pengadilan Kuala Lumpur, dan dimasukkan ke penjara di Johor selama 2 tahun 8 bulan.

Adapun pasukan Mobrig Ranger Amji Attak adalah Resimen Pelopor yang menyusup diam-diam ke Malaysia pada Maret 1965. Dengan tujuh perahu sekoci, mereka berangkat lewat Belakang Padang di Batam. Saat sudah dekat daratan di peisisir Malaysia, mereka mendayung. Amji Attak yang pada masa itu berpangkat Aipda dan memiliki nama sandi Muhammad ditugaskan sebagai pemimpin pasukannnya, karena ia paling diandalkan dalam mendayung perahu. Keahlian mendayungnya tersebut berasal dari tempaan alam sebagai anak Dayak di pedalaman yang dekat dengan kehidupan sungai, sehingga mendayung ini sangat mudah baginya.

Ketika pasukan Resimen Pelopor Aipda Amji Attak memasuki wilayah perairan Malaysia pada malam hari yaitu di wilayah laut China Selatan, mereka mendengar suara deru kapal besar yang mendekat. Aipda Amji Attak segera memerintahkan pasukannya untuk waspada dan menyiapkan senjata, untuk selanjutnya bergerak memanfaatkan celah diantara kapal. Aipda Amji Attak juga memberitahukan kepada anggota pasukannya bahwa yang mereka hadapi adalah kapal patroli AL Malaysia dan Kapal Perang Inggris.

Tanpa gentar sedikitpun segenap anggota pasukan Aipda Amji Attak langsung mengokang senjata mereka dan melepas pengamannya. Pada saat itulah lampu kapal patroli AL Malaysia menyoroti perahu yang membawa pasukan Pelopor tersebut, yang langsung disambut dengan reaksi pasukan Pelopor dengan segera menembaki lampu sorot tersebut. Sebuah tembakan tepat mengenai seorang anggota AL Malaysia dan sesaat kemudian terjadilah kontak senjata seru ditengah laut China Selatan pada malam tersebut.

Hiruk pikuk suara tembakan dari masing-masing pasukan terdengar riuh dan memekakkan telinga. Suara teriakan dan suara tubuh manusia yang tercebur ke laut ramai terdengar. Rupanya beberapa anggota Pasukan Pelopor Aipda Amji Attak dan AL Malaysia terkena tembakan. Melihat hal itu Aipda Amji Attak segera memerintahkan anak buahnya untuk menembakan pelontar granat ke arah kapal musuh.
Tembakan pertama meleset dan granat jatuh ke laut, namun tembakan kedua berakibat fatal bagi kapal patroli AL Malaysia karena tembakan pelontar granat tepat mengenai gudang amunisi kapal sehingga kapal meledak dan menimbulkan cahaya terang. Kapal patroli AL Malaysia itu mengalami kerusakan berat dan mundur dari medan pertempuran.

Mundurnya patroli AL Malaysia tersebut rupanya sambil memanggil bala bantuan, karena sesaat kemudian datanglah dua lagi kapal patroli AL Malaysia dan Kapal Perang Inggris. Dengan jarak yang masih jauh sehingga memungkinkan kedua kapal tersebut menggunakan meriam untuk menghajar posisi perahu pasukan Pelopor Aipda Amji Attak.

Pertempuran kedua ini berjalan tidak seimbang karena pasukan Pelopor Aipda Amji Attak yang bersenjatakan senapan ringan dan pelontar granat harus menghadapi kapal AL Malaysia dan Inggris yang bersenjatakan meriam dan senapan mesin.
Namun demikian, Aipda Amji Attak tidak memerintahkan anak buahnya untuk menyerah melainkan justru memerintahkan untuk menyerang mendekati kedua kapal tersebut.

Pada saat itu Aipda Amji Attak berstrategi bahwa dalam pertempuran jarak dekat masih ada harapan bagi pasukan Pelopor yang dipimpinnya untuk selamat atau paling tidak bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar bagi musuh.

Selanjutnya, tembakan senapan mesin kaliber 12,7 mm dari kapal musuh segera menghantam perahu pertama dan anggota Pasukan Pelopor Aipda Amji Attak yang ada di kapal tersebut tersapu tembakan. Dua perahu lainnya masih memberikan perlawanan dengan tembakan yang sengit.
Pada peristiwa tersebut, Pasukan Pelopor Amji Attak hanya bersenjatakan senjata AR 15 sehingga sulit untuk membidik musuh. Sehingga para Pasukan Pelopor hanya menggunakan nalurinya untuk menembak. Mereka hanya membidik dan menembak pada saat pelontar granat ditembakan. Namun pada jarak yang jauh pelontar granat sulit diharapkan.

Akhirnya perlawanan dari dua perahu pasukan Pelopor Aipda Amji Attak ini diakhiri oleh dua buah tembakan meriam yang mengenai samping perahu. Perahu Aipda Amji Attak hancur terkena tembakan meriam dan beliau gugur di Laut China Selatan. Perlawanan sengit pasukan Pelopor Aipda Amji Attak berakhir karena hampir semua anggota Pasukan Pelopor yaitu sebanyak 33 orang gugur dalam pertempuran tersebut.

Pada tahun 1966, Kesatrian Brimob Kelapa Dua diresmikan dan nama Aipda Amji Attak diabadikan sebagai nama Kesatrian Korps Brimob Polri Kelapa Dua.
Selain karena ia paling senior, juga sebagai cikal bakal Pelopor Ranger dari kompi Resimen Pelopor. Selain itu juga sebagai pahlawan Dwikora yang gugur ketika peristiwa konfrontasi Malaysia. Dimana peristiwa ini ikut andil menghantarkan Malaysia, Singapura dan Brunei merdeka.

Nama Aipda Amji Attak juga diabadikan dalam bentuk patung yang berdiri gagah di gerbang Kesatrian Brimob Kelapa Dua bersama patungnya Taboki Takuda yaitu anggota Brimob Ranger yang juga tewas dalam konfrontasi dengan Malaysia tahun 1964. (Tim - RN)

 

Share

0 Comments

Join the Conversation